Penggila Bola dari Kranji

Informasi Umum & Sepakbola Dunia

Posts Tagged ‘sepakbola’

Empat alasan mengapa tak ada yang bisa menghentikan Real Madrid

Posted by Penggila Bola on 05-Jun-2017

Minggu 4 Juni 2017 oleh Joe Walker dari Stadion Nasional Wales

Wartawan Joe Walker, melihat beberapa fitur penting dari sebuah bintang untuk tim Zinéine Zidane yang memuncak dengan mengalahkan Juventus  4-1 di final Cardiff.

 

Pembuatan sejarah ada dalam DNA Real Madrid. Mereka telah merobek-robek buku rekor, memenangkan Piala Eropa ke-12 yang luar biasa dengan kemenangan 4-1 atas Juventus, dalam prosesnya menjadi tim pertama yang mempertahankan piala di era Liga Champion.

1 Madrid selalu mencetak gol

Gol pembuka Cristiano Ronaldo menandai pertandingan ke-65 berturut-turut di mana Madrid telah mencetak gol. Ke depan mereka terlihat tak terbendung. Tidak ada yang bisa mengalahkan ini lebih baik daripada pertandingan pertama mereka pada kompetisi musim ini. Pada saat Sporting menang 1-0 hingga pada menit ke-89 di Bernabeu, namun tampaknya masih ada keniscayaan saat Ronaldo menyamakan kedudukan dengan tendangan bebas yang tak terbendung ke pojok atas. Penggemar dan pemain sama-sama terus mengulang-ulang “el Madrid nunca se rinde” – Madrid tidak pernah menyerah – dan ini menunjukkan hal itu. Mereka berjuang sampai akhir, akhirnya mengalahkan Sporting 2-1, dan itu membuat mereka dalam perjalanan menuju kesuksesan. Mereka selalu menemukan jaring di setiap pertandingan yang dalam perjalanannya menuju kejayaan, dan akhirnya mencetak gol mereka yang dilakukan untuk Juventus.

2 Zinedine Zidane

Ada keraguan seputar orang Prancis saat dia mengambil alih posisi di Madrid. Dia adalah pemain yang hebat, tapi apakah itu akan berpengaruh ke dalam karir kepelatihannya? Jawabannya tegas. Dua kemenangan UEFA Champions League dalam 18 bulan, menyandingkan Liga dan Piala Eropa pertama dalam 59 tahun, dan membuat ruang ganti yang penuh kebahagiaan.

Dia memainkan sepak bola dan telah menunjukkan sisi cerdasnya dengan memutar skuadnya sehingga mereka mencapai akhir musim pada puncaknya. Dia telah menunjukkan fleksibilitas taktis, beralih antara formasi 4-4-2 dan 4-3-3, dan inilah yang telah mendukung tercapainya Undécima dan Duodécima dari Madrid (gelar ke-11 dan ke-12 Liga Champion Eropa).

3 Lini tengah terbaik di dunia?

Beberapa trio lini tengah bisa bersaing dengan Luka Modrić, Toni Kroos dan Casemiro. Hal terbaik tentang mereka adalah cara mereka saling melengkapi. Modrić bermain bersama dengan baik, menghubungkan serangan dan pertahanan dengan sangat terampil. Kroos memiliki ketenangan yang luar biasa dan memiliki jarak yang terjangkau dengan beberapa pemain lainnya. Sementara itu, Casemiro melindungi empat pemain belakang. Dia melindungi mereka dan mengisi saat seperti Marcelo dan Dani Carvajal naik menyerang.

4 Ketika Datang waktunya, datanglah orang itu

Setelah semua itu, Ronaldo hidup kembali saat timnya sangat membutuhkannya di akhir perjuangan. Sebuah hat-trick di leg kedua perempat final melawan Bayern, sementara treble lain melawan tetangga Atlético meyakinkan Real di tempat pertunjukkan mereka pada hari Sabtu lalu.

Tepat saat itulah pemain Portugis berusia 32 tahun itu, memecahkan kebuntuan dan mendapat peran penting untuk membantu Madrid meraih kemenangan. Pemain pertama yang mencetak gol di tiga final Liga Champions UEFA – dan pencetak gol terbanyak sepanjang masa – juga merupakan orang yang mencetak gol ke-500 Madrid di turnamen tersebut.

Disadur dari: http://www.uefa.com/uefachampionsleague/news/newsid=2476007.html

 

Advertisements

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

Para Juara Liga Champion dari tahun ke tahun

Posted by Penggila Bola on 05-Jun-2017

Inilah daftar juara liga Champion Eropa dari tahun ke tahun, dimulai dari 1989/1990 saat AC Milan menjadi juaranya.

Posted in Sepakbola | Tagged: , , | Leave a Comment »

Real Madrid Juara Liga Champions!

Posted by Penggila Bola on 05-Jun-2017

Cardiff – Real Madrid tampil sebagai juara Liga Champions 2016/2017 setelah pada laga final mengalahkan Juventus dengan skor 4-1.

Pada pertandingan yang dihelat di Millenium Cardiff, Minggu (4/6/2017) dinihari WIB, Madrid unggul duluan pada menit ke-20 lewat gol Cristiano Ronaldo.

Juventus lantas menyamakan skor enam menit setelah lewat sepakan akrobatik Mario Mandzukic. Tak ada gol lagi tercipta di babak pertama sehingga skor berakhir 1-1.

Madrid tampil trengginas di babak kedua dan menambah tiga gol lewat Casemiro di menit ke-60, lalu gol kedua Ronaldo pada menit ke-64, dan ditutup gol Marco Asensio di menit ke-90.

Laga pun berakhir untuk kemenangan Madrid dengan skor 4-1 dan mereka pun berhasil mempertahankan gelar juara Liga Champions yang direbut musim lalu, sekaligus jadi tim pertama yang melakukannya.

Ini jadi gelar Champions ke-12 sepanjang sejarah Madrid di kompetisi ini atau yang keenam di era Liga Champions.

Sementara Juventus lagi-lagi harus memendam impiannya meraih trofi Liga Champions ketiga mereka. Bagi klub asal Turin itu, ini adalah gelar runner-up ketujuh mereka dari sembilan kali melaju ke final Piala/Liga Champions.
(mrp/nds)

sumber: https://sport.detik.com/sepakbola/uefa/3519416/real-madrid-juara-liga-champions

 

 

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Real Madrid dan Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan

Posted by Penggila Bola on 07-Mar-2017

Madrid – Sebagai kesebelasan yang berasal dari ibu kota Spanyol, Real Madrid CF tentunya memiliki sejarah yang panjang, baik yang berkaitan dengan sepakbola itu sendiri ataupun tidak.

Jika diurutkan, sudah banyak sekali sejarah yang dicatatkan oleh kesebelasan yang bermarkas di Stadion Santiago Bernabeu sejak 1947 ini. Mereka pernah menjadi kesebelasan pertama yang memenangkan gelar Liga Spanyol dua kali berturut-turut. El Real juga menjadi kesebelasan yang paling banyak meraih trofi Liga Champions, yaitu 11 kali.

Namun, di balik semua sejarah mentereng yang dicatatkan oleh Los Blancos, ada beberapa sejarah kelam yang juga pernah dicatatkan oleh Real Madrid dalam kancah persepakbolaan Spanyol, terutama yang berkaitan dengan diktator Spanyol yang berkuasa pada masa 1930 sampai 1970-an, Jenderal Franco.

Selain Franco, ada juga sejarah lain yang mengikat Madrid dengan Katalunya, pihak yang begitu memusuhi mereka saat ini.

Real Madrid dan Jenderal Franco, Dua Entitas yang Saling Melengkapi

Ada banyak persepsi tentang hubungan antara Jenderal Fransisco Franco Bahamonde dengan Real Madrid. Persepsi ini akan terbentuk sesuai dengan sisi yang Anda pilih dalam laga El Clasico, apakah sisi Madrid atau sisi Barcelona?

Jika Anda memilih sisi Barca, maka persepsi Anda akan dibentuk sedemikian rupa bahwa Jenderal Franco adalah salah seorang diktator yang kejam nan jahat. Ia adalah sosok yang melakukan opresi begitu keras kepada rakyat Katalunya. Pada masa pemerintahannya, rakyat Katalunya dilarang memakai segala atribut yang berbau Katalan, juga dilarang untuk menggunakan Bahasa Katalunya dalam percakapan sehari-hari.

Dengan persepsi seperti itu, jadilah Anda orang yang sebegitu bencinya kepada Jenderal Franco. Franco, dalam benak Anda, mungkin akan dianggap sebagai salah seorang diktator jahat yang selalu berusaha untuk menekan rakyat Katalunya. El Clasico pun akan dianggap sebagai sebuah jalan untuk melawan. Melawan opresi sekaligus melawan kesewang-wenangan.

Tapi jika Anda memilih sisi Madrid, maka Anda akan disuguhkan pemandangan lain. Sebagai kesebelasan yang berasal dari ibu kota Spanyol, juga menjadi pusat kebudayaan Castilian, mereka banyak mendapat berkah dari rezim Franco. Generalissimo (sang Jenderal, sebutan untuk Franco) banyak membantu kesebelasan ini untuk berjaya pada masa 50-an silam.

Salah satu hasil dari kerja tangan Franco untuk Madrid adalah sosok Alfredo Di Stefano. Sosok yang juga menjadi pemantik awal panasnya El Clasico. Perburuan Di Stefano pada era 50-an tersebut, yang juga sempat diburu oleh Barca dan dipertahankan mati-matian oleh River Plate ini, bisa dimenangkan Madrid karena ada campur tangan Franco di sana.

Walau saat saga Di Stefano tersebut FIFA sudah menawarkan jalan tengah (Di Stefano main dua musm di Madrid dan dua musim di Barca), Barca memilih untuk mundur dan akhirnya Di Stefano pun menjadi legenda Madrid. Di Stefano ini pula, selain Jenderal Franco, yang menjadi awal dari munculnya El Clasico.

Namun untuk Franco, Real Madrid bukan hanya sekedar kesebelasan semata. Anggapan yang mengatakan bahwa ia membantu Madrid untuk meraih kejayaan di era pemerintahannya, dari sisi yang lain bisa juga dilihat sebagai upaya dari Franco untuk mendompleng nama Madrid sebagai cara melanggengkan kekuasaannya.

Jadi, sebenarnya Franco dan Madrid adalah dua entitas yang saling melengkapi. Madrid sukses menguasai Liga Spanyol (dan juga meraih trofi Piala Champions) karena Franco, dan Franco dapat melanggengkan kekuasaannya dalam waktu yang lama karena ia mendompleng nama Madrid, salah satu kesebelasan besar Spanyol yang juga menjadi pencetus berdirinya La Liga Primera Division Spanyol bersama Athletic Bilbao dan Barcelona.

Madrid dan Katalan yang Seharusnya Berujung Ucapan Terima Kasih

Selain sejarah kelam yang berkaitan dengan Jenderal Fransisco Franco, ada juga sejarah lain yang tidak boleh dilupakan oleh Real Madrid dan juga pecinta sepakbola Spanyol yang lain. Real Madrid didirikan oleh dua orang kakak-beradik pebisnis yang berasal dari Katalunya.

Pada 1902 silam, dua pebisnis yang sedang merantau ke Madrid dari Katalunya, Juan Padros Rubio dan Carlos Padros Rubio, mendirikan sebuah kesebelasan bernama Madrid Football Club, pengembangan dari Football Club Sky yang dibentuk oleh para akademisi dan mahasiswa Institucion Libre de Ensenanza pada 1897. Juan Padros, yang juga merupakan orang asli Katalan (ia lahir di Barcelona pada 1 Desember 1869) menjadi presiden pertama dari Madrid Football Club, cikal bakal Los Blancos masa kini.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 1904, posisinya digantikan oleh saudaranya, Carlos Padros Rubio. Dua orang inilah yang berjasa untuk mengembangkan Football Club Sky, kesebelasan yang menjadi cikal bakal sebuah kesebelasan masa kini yang berlambangkan mahkota dan memakai warna putih sebagai warna dominan dalam seragamnya, kesebelasan yang bernama Real Madrid.

Dengan adanya campur tangan dari orang Katalan dalam membentuk Real Madrid ini, seharusnya ada sebuah ucapan terima kasih, baik itu dari Katalunya sendiri dan juga pihak dari Castilian, Real Madrid. Lagi pula, sebelum Franco berkuasa, hubungan Castilian dan Katalan, serta hubungan Castilian dengan etnis-etnis lain, seperti Basque, baik-baik saja.

Namun memang semua berubah sejak zaman Jenderal Franco berkuasa. Sejarah ini, yang juga sebenarnya merupakan sebuah pengingat di kala hubungan Katalan-Castilian memanas sedemikian rupa, kerap kali terlupakan.

Terkadang, perasaan marah dan kesal karena tertekan oleh sesuatu bisa mengaburkan sisi baik yang ada dari sesuatu tersebut.

**

Real Madrid memang akan sulit lepas dari stigma tentang kesebelasannya Jenderal Franco. Itu adalah sejarah yang tak bisa dihilangkan karena pernah terjadi dan banyak literatur yang membahasnya. Tapi sejarah juga mencatat bahwa Madrid dan Katalan pernah berhubungan baik, dan ini juga adalah sejarah yang tidak boleh dilupakan.

Sejarah tidak melulu berisikan peristiwa manis dan indah. Sejarah juga acap kali berisikan sesuatu yang kejam dan pahit. Yang bisa dilakukan oleh generasi sekarang adalah berdamai dengan sejarah tersebut, mengilhami dan meresapinya sebagai bahan perenungan agar kesalahan-kesalahan masa lampau tidak terjadi lagi di masa kini.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah! (raw/raw)

 

Sumber: https://sport.detik.com/aboutthegame/football-story/d-3440013/real-madrid-dan-sejarah-yang-tak-boleh-dilupakan

 

 

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Serba serbi El Clasico Sepanjang masa

Posted by Penggila Bola on 01-Apr-2016

El ClasicoEl Clasico (bahasa Inggris: The Classic; juga dikenal sebagai El Derbi Espanyol atau El Classic) adalah nama umum yang diberikan untuk setiap pertandingan sepak bola antara FC Barcelona dan Real Madrid. Pertemuan mereka terjadi setiap tahun sebagai bagian dari kompetisi La Liga Spanyol, dengan maksimum sembilan pertandingan tahun, dengan dua tambahan di Copa del Rey, Liga Champions, dan Supercopa de Espana, dengan kemungkinan lain dalam Piala Super UEFA dan Final Liga Champions. Kedua klub ini adalah klub-klub yang paling mengikuti pertandingan sepak bola di dunia, disaksikan oleh ratusan juta orang.

Persaingan itu muncul dengan sejarah bahwa Madrid dan Barcelona adalah dua kota terbesar di Spanyol, dan dua klub adalah klub sepakbola paling berhasil dan berpengaruh di negeri ini. Dalam pertandingan resmi yang diakui FIFA, Barcelona telah meraih 83 Trofi sedangkan Real Madrid telah meriah 79 Trofi. Mereka kadang-kadang diidentifikasi dengan lawan posisi politik, dengan Real Madrid yang mewakili bangsa Spanyol dan Barcelona yang mewakili bangsa Catalan.

 

  • El Clasico pertama digelar di stadion Hippodromo Madrid pada 13 Mei 1902. Barca kala itu menang 3-1 atas Madrid. Pada partai pertama tersebut gol-gol Barcelona dicetak oleh Udo Steinburg dan dua gol Joan Gamper, gol Madrid oleh Arthur Johnson.
  • Pada semi final Copa del Generalisimo tahun 1942-43, Real Madrid menang dengan agregat 11-2 yang merupakan rekor gol agregat
  • Top Skorer El Clasico sepanjang masa dengan total 21 gol adalah Lionel Messi dari Barcelona yang memecahkan rekor jumlah gol Alfredo Di Stefano dari Real Madrid dengan 18 gol pada pertandingan El Clasico episode ke-227.
  • Alfonso Albeniz menjadi pemain pertama yang pindah dari Barcelona ke Real Madrid pada bulan Mei 1902. Pemain pertama yang pindah dari Real Madrid ke Barcelona adalah Luciano Lizzaraga pada tahun 1905
  • Josep Samitier (Barcelona) adalah pemain pertama yang mencetak 4 gol di el clásico pada kemenangan 5-1 di April 1926, sejak itu pemain lain pencetak quadruple adalah Ildefonso Sanudo (Madrid) menang 8-2 (1935), Marti Ventolra (Barcelona) menang 5-0 (1935), pemain lain pencetak quadruple adalah Barinaga (Madrid) menang 11-1 (1943), Eulogio Martinez (Barcelona) menang 6-1 (1957)
  • Benzema dari Real Madrid mencetak gol tercepat di el clásico hanya dalam 22 detik pada el clásico 10 Desember 2011, selain Benzema, Enrique Mateos dan Giovanni dari Madrid dan Francisco Carrasco dari Barca juga mencetak gol sebelum menit pertama
  • Michael Laudrup membawa Barca menang 5-0 di el clásico tahun 1994, dan membawa Madrid menang 5-0 di el clásico tahun 1995. Michael Laudrup juga menjadi satu-satunya pemain yang berhasil meraih 5 gelar la liga berturut-turut dengan 2 klub berbeda
  • Fernando Hierro (Real Madrid) adalah pemain yang paling banyak mendapat kartu dalam sejarah El Clasico dengan 18 kartu (17 kartu kuning + 1 kartu merah)
  • Pemain Real Madrid, Manuel Sanchís telah tampil sebanyak 43 kali dalam laga El Clasico. Jumlah ini adalah yang terbanyak dari pemain lainnya sepanjang sejarah pertemuan kedua tim sedangkan gelandang Barcelona Xavi Hernández adalah pemain masih aktif yang tampil terbanyak yaitu 41 kali dan Lionel Messi dari Barcelona adalah pemain asing yang tampil paling banyak di partai El Clasico sebanyak 29 kali
  • Hingga partai El Clasico yang ke-229 disemua kompetisi pada tanggal 25 Oktober 2014, Madrid masih unggul dalam hal jumlah kemenangan. Madrid menang 92 kali, sedangkan Barca menang 89 kali. Sisanya imbang sebanyak 48 kali.

 

 

sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/El_Cl%C3%A1sico

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Daftar Juara Liga Sepakbola di Inggris

Posted by Penggila Bola on 07-May-2014

Daftar Juara Sepakbola Inggris 001
Daftar Juara Sepakbola Inggris 002
Daftar Juara Sepakbola Inggris 003
Daftar Juara Sepakbola Inggris 004
Daftar Juara Sepakbola Inggris 005
Daftar Juara Sepakbola Inggris 006

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , , | 1 Comment »

Rekor-rekor Buruk MU di Tangan Moyes

Posted by Penggila Bola on 23-Apr-2014

david moyes_0Belum semusim di Manchester United, David Moyes sudah mencatatkan banyak rekor. Namun, torehan-torehan yang dibuat pria 50 tahun itu bukan dalam hal yang oke, sebaliknya justru memberi cela dan menorehkan cacat.

Ditunjuk langsung oleh Sir Alex Ferguson dan disodori kontrak jangak panjang enam tahun, Moyes sebenarnya mengawali kerja di Old Trafford dengan hasil baik. Dia memberi Wayne Rooney dkk trofi Community Shield setelah mengalahkan Wigan Athletic 2-0.

Namun itu ternyata menjadi satu dari sedikit momen indah yang dirasakan MU bersama Moyes. Karena setelah itu ‘Setan Merah’ lebih banyak dirundung kekecewaan karena serangkaian kekalahan dan statistik-statistik buruk.

Wayne Rooney dkk terlalu mudah kalah di musim ini, bahkan oleh tim yang bukan berstatus ‘Big Four‘. Old Trafford juga kehilangan keangkerannya karena mereka enam kali kalah di Theater of Dreams.

Berikut rekor dan catatan buruk Moyes di MU, seperti dikutip dari Daily Mail:

  • Kekalahan pertama atas Stoke City sejak 1984 (skor 1-2).
  • Kekalahan kandang pertama atas West Bromwich Albion sejak 1978 (skor 1-2).
  • Kekalahan kandang pertama atas Newcastle United sejak 1972 (skor 0-1).
  • Kekalahan kandang pertama atas Everton sejak 1992 (0-1).
  • Kekalahan kandang pertama atas Swansea (skor 1-2 di Babak Ketiga Piala FA).
  • Tiga kekalahan kandang beruntun pertama sejak 2001.
  • Kali pertama sejak 1995 MU gagal lolos ke Liga Champions
  • Kali pertama sejak 1992 MU kebobolan di menit pertama. Edin Dzeko melakukannya saat MU kalah 0-3 atas Manchester City di Old Trafford.
  • Dengan hanya ada empat pertandingan tersisa di musim ini, MU dipastikan menyudahi musim dengan nilai terburuk sejak 1992.
  • Sudah enam kali kalah di kandang, ini merupakan rekor home terburuk ‘Setan Merah’ dalam lebih dari satu dekade terakhir.
  • Untuk kali pertama sejak era Premier League dimulai, Everton, Manchester City dan Liverpool bisa meraih kemenangan tandang dan kandang atas MU.
  • Bersama Moyes, MU tersingkir di babak ketiga Piala FA musim ini. Padahal selama 26 tahun Sir Alex Ferguson bertugas, cuma sekali The Red Devils rontok di fase tersebut.

 

Sumber: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2014/04/22/160628/2562128/72/1/rekor-rekor-buruk-mu-di-tangan-moyes

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , , , | 1 Comment »

Trofi ke-19 Madrid di Copa del Rey

Posted by Penggila Bola on 17-Apr-2014

real madrid juara copa del rey 2014Valencia – Keberhasilan Real Madrid memenangi partai final Copa del Rey musim ini membuat mereka sudah mengumpulkan 19 trofi di kompetisi ini. Tapi Barcelona masih jadi tim yang paling sering juara.

Pada laga final yang dihelat di Mestalla Stadium, Kamis (17/4/2014) dinihari WIB, Madrid unggul lebih dulu berkat gol Angel Di Maria di babak pertama yang bertahan hingga jeda.

Di babak kedua Barca menyamakan kedudukan lewat Marc Bartra sebelum gol Gareth Bale di lima menit akhir pertandingan membawa Madrid menang dengan skor 2-1.

Kemenangan ini pun mengulang pencapaian Madrid di final 2011 di mana mereka juga mengalahkan Barca. Kala itu gol tunggal Cristiano Ronaldo di masa perpanjangan waktu jadi pembeda antara kedua tim.

Sekaligus juga membayar kekecewaan musim lalu kala dikalahkan Atletico Madrid di final dengan skor 1-2.

Selain itu trofi Madrid di Copa del Rey pun bertambah menjadi 19 buah setelah pertama kali jadi juara di tahun 1905. Tapi raihan trofi Madrid masih jadi ketiga terbaik, di bawah Barca dan Athletic Bilbao.

Bilbao sendiri sudah mengumpulkan 23 trofi tapi terakhir kali jadi juara di musim 1984, sementara Barca punya 26 trofi dengan yang terakhir direbut pada tahun 2012.

 

Daftar Lima Besar Juara Copa del Rey

26 – Barcelona
23 – Athletic Bilbao
19 – Real Madrid
10 – Atletico Madrid
7 – Valencia

 

sumber: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2014/04/17/051436/2557688/75/trofi-ke-19-madrid-di-copa-del-rey-barca-masih-terbanyak

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , , | 2 Comments »

[Final Liga Champions: Bayern 2-1 Dortmund] Bayern Juara dengan Merespons High Pressing Dortmund

Posted by Penggila Bola on 27-May-2013

fcbayernBayern Munich akhirnya berhasil menjadi juara Liga Champions 2012/2013 setelah mengalahkan rival domestiknya, Borussia Dortmund. Setelah gagal di final Liga Champions 2009/2010 (kalah dari Inter Milan) dan final Liga Champions 2011/2012 (kalah dari Chelsea), Bayern akhirnya bisa membawa trofi “si telinga panjang” ke Allianz Arena.

Skor akhir memang tipis saja, 1-2, tapi jalannya pertandingan jauh dari menjemukan. Kedua pelatih, Juergen Klopp dan Juup Heynckess, saling mencoba strategi masing-masing dan satu sama lain saling menjajal kontra-stretegi. Kedua tim bermain dengan karakternya masing-masing, saling jual serangan, bergantian melakukan percobaan mencetak gol, dan diperkaya oleh aksi-aksi penyelamatan gemilang yang dibuat dua penjaga gawang, Manuel Nauer dan Roman Weidenfeller.

Pertandingan ini, terlebih jalannya pertandingan di babak I, mungkin bisa dianggap sebagai duel final Champions terbaik dalam beberapa musim terakhir.

High Pressing Dortmund

Borussia Dortmund mengawali pertandingan dengan penampilan yang menjanjikan. Mereka sangat merepotkan Manuel Nauer. Dalam 20 menit pertama, anak asuh Juergen Klopp ini sudah membuat 5 percobaan mencetak gol, sementara Bayern Muenchen tidak sanggup membuat satu pun percobaan mencetak gol.

Kunci utama dominasi Dortmund di babak I adalah keberanian untuk melakukan high-pressing. Mereka tidak memberi kesempatan para pemain Muenchen untuk berlama-lama menguasai bola. Dortmund memang nyaris selalu kalah dalam duel bola udara di babak I [hanya memenangkan 6 duel udara dari total 23 kali], tapi begitu mereka kalah duel udara pemain lain bisa dengan cepat mengejar bola kedua yang lepas itu.

Tekanan yang mereka lakukan bahkan sudah dilakukan sejak daerah pertahanan Muenchen sendiri. Lewandowksi sebagai penyerang tunggal dan Marcus Reus di belakangnya sangat aktif melakukan tindakan defensif saat Muenchen menguasai bola di wilayahnya sendiri. Sementara di lini tengah, duet Gundogan-Bender selalu siap dibantu oleh Jakub Blaszczykowski di kanan dan Kevin Grosskreutz di kiri.

Absennya Goetze memang mengurasi dimensi kreatif Dortmund, tapi masuknya Grosskreutz memberi daya tahan tersendiri bagi Dortmund. Jika Goetze cenderung lemah kemampuan bertahannya, maka Grosskreutz hadir dengan kemampuan lebih dalam bertarung di lini tengah. Ini memungkinkan strategi melakukan high-pressing jadi lebih dimungkinkan ketimbang jika Goetze hadir di lapangan.

gbr_01

*Grafik tekel [kiri] dan intercept [kanan] Dortmund di babak I (Graphic credit: squawka.com/cnnfc.com)

Chalkboard di atas menggambarkan bagaimana agresifitas Dortmund dalam melakukan tindakan defensif [tekel dan intercept]. Mereka banyak melakukannya di lini tengah bahkan di wilayah Muenchen. Tidak banyak tekel dan intersep yang dilakukan di dalam kotak penalti sendiri.

Cara Dortmund Menyerang

Absennya Mario Goetze memang jadi kendala penting bagi Juergen Klopp. Sebagai pemain dengan catatan assist [5] dan key-passes [19] tertinggi di timnya selama Liga Champions musim ini, Goetze memang sangat berpengaruh terutama saat Dortmund memasuki sepertiga lapangan akhir.

Praktis Klopp menumpukan harapan kreatif timnya kepada sosok Reus. Klopp merencanakan cara menyerang dengan membiarkan Reus dan Lewandowksi sangat aktif bertukar posisi. Selain secara aktif melakukan tindakan defensif saat Muenchen menguasai bola, keduanya seringkali bergerak dalam jarak yang selalu berdekatan. 3 di antara percobaan mencetak gol Lewandowski di babak I lahir juga dari umpan Reus.

Chalkboard area bergerak Reus [no. 11] bahkan agak sedikit di depan Lewandowski [no. 9] – seperti terlihat dalam gambar di bawah ini:

gbr_02

*Grafik player position Dortmund [biru] dan Bayern [oranye]. Graphic credit: whoscored.com

Dari sisi ini, Dortmund terlihat bermain dengan pola 4-4-1-1 atau bahkan 4-4-2. Grosskreutz tidak banyak melakukan cutting inside sebagaimana yang biasa dilakukan Goetze untuk bertukar posisi dengan Reus.

Kombinasi ini cukup merepotkan dan seringkali berhasil memaksa Bastian Schweinsteiger turun lebih ke dalam seperti menjadi center back ketiga Bayern. Ini memaksa Javi Martinez bertarung sendirian di lini tengah. Terlebih Robben dan Ribery di babak I ini bermain cenderung terlalu melebar dan sering memaksa keduanya seperti terisolasi di tepi lapangan.

Piszczek dan Blaszczykowski sebagai Unit

Jika Robben akhirnya bisa pelan-pelan melepaskan diri dari tekanan dan bahkan mendapat 2 peluang emas, Ribery amat kesulitan mengembangkan permainannya di babak I. Dia terlihat sukar menembus Thomas Piszczek yang bertahan dengan dibantu oleh Blaszczykowski yang konstan turun membantu ke bawah.

Kombinasi Piszczek dan Blaszczykowski di sisi kanan Dortmund ini adalah senjata lain Klopp saat membongkar pertahanan Muenchen. Selain solid dan kompak dalam bertahan, keduanya melakukan hal yang sama saat menyerang. Dari sisi kanan Dortmund yang ditempati Piszczek dan Blaszczykowski inilah mayoritas datangnya serangan berbahaya Dortmund di babak I.

Kombinasi Piszczek dan Blaszczykowski ini memang hanya menghasilkan 1 key-passes [umpan yang diakhiri dengan shot] dan mayoritas serangan dari kanan ini diakhiri dengan key-passes yang dibuat oleh Reus. Tapi Reus bisa leluasa ikut mengeksploitasi sisi kiri Bayern yang dijaga Alaba dengan memanfaatkan pressing yang dilakukan oleh Piszczek dan Blaszczykowski terhadap area yang dijaga Alaba.

gbr_03

*Grafik Passing akurat Reus sepanjang pertandingan. Warna kuning adalah key-passes, 3 di antaranya dilakukan di sisi kanan (Graphic credit: squawka.com/cnnfc.com)

Sebaliknya, sisi kiri Muenchen yang ditempati Alaba-Ribery di babak I ini tidak bermain sebagai sebuah unit yang solid seperti halnya Piszczek dan Blaszczykowski. Alaba sibuk bertahan dan Ribery terus bersikeras mencoba membongkar sisi kanan pertahanan Dortmund secara mandiri.

Bayern Memanfaatkan Duel-duel di Udara

Di babak pertama, dengan Martinez-Schweinsteiger yang selalu berada di bawah pressing ketat Dortmund, Bayern kesulitan untuk mengalirkan bola dari tengah. Memang, pemain Dortmund sendiri tidak hanya aktif menutup gerak pemain Bayern di daerah pertahanan sendiri namun juga hingga ke sepertiga lapangan akhir. Saat penguasaan bola berada di tangan Bayern, Reus-Lewandowski akan menekan Boateng-Dante, sementara Gundogan-Bender akan menutup Martinez-Schweinsteiger dari depan.

Ini mengakibatkan kedua lini tengah Bayern terisolasi dan tak mampu untuk mengalirkan bola sama sekali ke area sepertiga lapangan akhir. Keduanya pun lebih sering memberikan backpass atau umpan pendek ke samping.

gbr_04

*Grafik passing Martinez di babak pertama

gbr_05

*Grafik passing Schweinsteiger di babak pertama

*Graphic credit: squawka.com/cnnfc.com)

Untuk mengatasi ini, Bayern pun acap kali mem-bypass lini tengah dengan memberikan umpan lambung ke arah Mandzukic-Mueller. Disinilah peran penting Schweinsteiger dan Boateng. Schweini akan turun ke bawah, ke antara Boateng dan Dante, untuk mengurangi tekanan pada Boateng dari pemain Dortmund, sementara Boateng memberikan umpan lambung ke arah depan. Sebagaimana terlihat dari grafik di bawah, Boateng yang jadi pemain terbaik Bayern malam tadi memang memiliki peran sentral dalam strategi ini.

gbr_06

*Grafik Passing Jerome Boateng di babak pertama (Graphic credit: squawka.com/cnnfc.com)

Dengan cara ini, Bayern sendiri ingin memanfaatkan kekuatan duel udara para pemainnya, terutama melalui Mandzukic-Mueller yang berada di lini depan. Hal ini juga terlihat dari Bayern yang coba memaksimalkan attempts melalui umpan silang, atau tendangan penjuru. Terbukti, di 45 menit pertama, Bayern mampu memenangkan 17 dari 23 duel di udaranya. Melawan Subotic, Mandzukic sendiri mampu memenangkan 2 dari 3 duel udara di depan gawang Weidenfeller.

Dortmund Menurun di Babak II

Ada dua perubahan mencolok di babak II dan akhirnya terbukti menentukan hasil akhir.

Pertama, secara perlahan tapi pasti, konsistensi Dortmund dalam memainkan high-pressing terus menurun. Konsekuensi dari memainkan tempo tinggi, menekan lawan sejak dari daerahnya sendiri, tentu lebih menguras fisik. Tidak mudah untuk bisa secara ajeg bermain dengan tempo tinggi secara terus menerus sepanjang 90 menit.

Dengan hanya mengandalkan Reus sebagai pivot yang menjadi tumpuan aliran serangan [dia membuat 4 key-passes, tertinggi dari semua pemain dari kedua tim] Dortmund akhirnya memang terlihat kekurangan opsi dalam menyerang.

Gundogan di babak I menjadi opsi lain dengan “diizinkan” lebih aktif membantu ke depan. Pemain Turki ini, terutama di babak I, sering ketika mendapat bola di lini tengah tidak segera melepasnya. Dia selalu mendorong bola ke depan lebih dulu, mencoba memasuki wilayah Muenchen, sebelum kemudian melepaskan umpan.

Tapi di babak II, apalagi setelah memasuki menit 70-an, Gundogan tidak cukup mampu memberi sokongan yang dibutuhkan bagi Reus. Gol penyama Dortmund dari kotak penalti di menit 68 yang dieksekusi Gundogan, hasil dari pelanggaran Dante terhadap Reus, seakan jadi simbol kekuatan Gundogan dan Reus –tapi pinalti itu juga seperti menjadi akhir yang terlalu dini dari daya sengat Dortmund. Sejak itu, Reus kehilangan magisnya dan tak mampu lagi membuat 1 pun key-passes.

Robben Bergeser ke Tengah

Salah satu kelemahan Bayern di babak pertama adalah tidak adanya playmaker di area sepertiga lapangan akhir. Thomas Mueller yang ditempatkan di belakang Mandzukic memang fasih untuk memantulkan bola-bola udara, namun dengan kemampuan passingnya yang tidak sebaik Kroos ia acap kali kesulitan untuk memberikan bola pada Robben, Ribery, atau Mandzukic. Dari grafik passing Mueller di bawah pun terlihat ia lebih sering bergerak ke kanan dan berkombinasi dengan Robben, ketimbang mendistribusikan bola secara merata di area kanan ataupun kiri.

gbr_07

*Grafik Passing Thomas Mueller di babak pertama (Graphic credit: squawka.com/cnnfc.com)

Hal ini juga diperparah dengan Javi Martinez dan Bastian Scheweisnteiger yang bermain lebih dalam karena pressing-pressing yang dilakukan oleh pemain Dortmund. Mueller sendiri jarang turun ke bawah untuk menjemput bola dari Martinez-Schweinsteiger karena ia juga bertugas untuk berduel dengan Hummel untuk merebut bola-bola udara.

Tak heran jika Mueller dan Mandzukic acap kali berada sejajar, ketimbang Mueller di belakang Mandzukic. Sebagaimana telah disebutkan, praktis di babak pertama aliran bola di area sepertiga lapangan akhir pun hanya berasal dari sayap.

Heynckes memperbaiki ini dengan menggeser Robben ke tengah. Pemain asal Belanda ini sering berada di posisi menggantung di tengah, untuk menunggu umpan terobosan dan mendorong bola hingga ke byline, sementara Mueller bergeser ke kiri. Dua gol yang dicetak oleh Bayern pun terjadi akibat adanya perubahan ini.

gbr_08

Di gol pertama terlihat bagaimana Robben yang berposisi di tengah menunggu celah yang terbuka karena kelima pemain Dortmund terkonsentrasi pada Ribery dan Mandzukic. Dengan leluasa Robben lalu menerima umpan terobosan Ribery, berlari untuk menarik Weidenfeller keluar dan mengirimkan umpan silang. Hal inilah yang tidak terlihat di babak pertama karena Mueller lebih sering melebar ke kanan.

Dominasi Bayern setelah Robben digeser ke tengah ini membuat Mueller bisa memaksimalkan kekuatan utamanya dalam membaca, mencari dan membongkar ruang di pertahanan lawan. Dia memanfaatkan kalang-kabutnya pertahanan Dortmund mengantisipasi pergerakan Robben yang dibebaskan menjelajah daerah pertahanan lawan.

Ada setidaknya 3 momen di mana Mueller dengan cerdik masuk ke pertahanan Dortmund memanfaatkan celah sempit yang ditinggalkan defender Dortmund. Tidak heran jika Mueller adalah pemain Bayern dengan yang paling banyak menghasilkan key-passes dengan 3 buah, 1 buah di bawah Reus sebagai pemain terbanyak di laga ini yang menciptakan key-passes.

Kombinasi Kehebatan Neuer dan Lini Pertahanan Bayern

Kredit lain harus diberikan pada barisan pertahanan Bayern. Kombinasi barisan pertahanan dan Manuel Nauer berhasil menyelamatkan anak asuh Heynckess ini dari kebobolan sepanjang badai serangan Dortmund di babak I.

Dengan hanya kebobolan 11 gol di UCL dan 18 gol di liga, tak ayal Bayern jadi salah satu tim dengan pertahanan terbaik di Eropa musim ini. Satu catatan menarik dari hal ini adalah bagaimana Bayern yang sangat jarang kebobolan dari tendangan jarak jauh. Total hanya 2 dari 29 gol kebobolan mereka yang berasal dari attempts jarak jauh.

gbr_9

Grafik kebobolan Bayern di Bundesliga

gbr_10

Grafik kebobolan Bayern di UCL

*Graphic credit: squawka.com/cnnfc.com

Salah satu penyebab hal ini adalah demikian dominannya Neuer sebagai dalam menghadapi tendangan jarak jauh. Lini pertahanan Bayern pun mampu memaksimalkan kekuatan ini dengan cara memotong bola-bola terobosan ke dalam kotak penalti, sehingga lawan direduksi untuk menendang dari jarak jauh.

Dalam pertandingan ini, Dortmund pun sering kali kesulitan menembus kotak penalti Bayern. Bahkan, dari 11 attempts yang dilakukan oleh Dortmund di pertandingan ini, hanya 4 yang dilakukan dari jarak dekat di depan gawang Neuer.

gbr_11

*Grafik Tekel Bayern Muenchen (Graphic credit: squawka.com/cnnfc.com)

Dari grafik di atas pun terlihat bagaimana lini pertahanan Bayern yang acap kali memotong bola tepat di depan kotak penalti. Bahkan, Dortmund sendiri selama 90 menit tak bisa melakukan satu bola terobosan pun ke kotak penalti Bayern. Marco Reus yang berperan sebagai playmaker juga hanya mampu menciptakan key-passes melalui sayap kanan.

====

*akun Twitter penulis @panditfootball

sumber: http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/05/27/090423/2256330/1480/bayern-juara-dengan-merespons-high-pressing-dortmund?b99220270

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , | 1 Comment »

[Liga Europa] Kalahkan Steaua 3-1, Chelsea ke Perempatfinal

Posted by Penggila Bola on 15-Mar-2013

Terry_chelsea-steauaLondon – Chelesea berhasil membalas kekalahan atas Steaua Bucharest. Bermain di Stamford Bridge, Jumat (15/3/2013) dinihari WIB, The Blues memetik kemenangan 3-1 dan berhak mengantongi tiket ke perempatfinal Liga Europa.

Setelah kalah 0-1 di pertemuan pertama, Chelsea paling tidak butuh dua gol untuk memastikan meraih tiket ke babak perempatfinal. Jalan untuk mewujudkan hal tersebut terbuka lebar setelah Juan Mata membuka keunggulan Chelsea di menit 33.

Namun jalan terjal kembali dihadapi The Blues menyusul gol penyama yang dilesakkan Vlad Chiriches. Skor 1-1 (agregat 2-1 untuk Steaua) membuat Chelsea harus mencetak dua gol tambahan untuk lolos.

Adalah john Terry dan Fernando Torres yang kemudian jadi pahlawan. Sang kapten membawa Chelsea balik unggul di menit 58, sementara El Nino merobek gawang tamunya di menit 71. Torres punya peluang untuk menggandakan golnya saat dia jadi eksekutor penalti, namun sepakannya hanya membentur mistar gawang. Chelsea pun menang 3-1 (agregat 3-2).

Jalannya Pertandingan

Butuh menang setelah kalah di pertemuan pertama, Chelsea malah nyaris kebobolan lebih dulu di menit 12. Diawali kesalahan John Terry, Rau Rusescu berhasil melepaskan tembakan yang dengan sangat baik dihalau Petr Cech menggunakan satu tangannya.

Sepuluh menit kemudian Chelsea nyaris mencetak gol melalui kerjasama Eden Hazard serta John Obi Mikel. Namun upaya Mikel menjebol gawang tamunya juga tak membuahkan hasil karena kiper Ciprian Tatarusanu berhasil menghalau bola yang mengarah ke gawangnya.

Memasuki menit 33, gol yang sangat dinantikan The Blues akhirnya datang melalui kerjasama yang terjalin baik antara Juan Mata dengan Ramires. Aksi yang berhasil membongkar pertahanan Bucharest tersebut berakhir dengan sepakan Mata yang masuk ke gawang meski sempat mengenai kaki kiper. Gol tersebut membuat kedua tim punya agregat sama kuat 1-1.

Empat menit berselang Chelsea nyaris menambah jumlah golnya andai tendangan Torres meneruskan umpan Mata tidak menyasar sisi luar jala gawang. Di menit 40, aksi individu Hazard melewati dua pemain dari sisi kiri dituntaskan dengan melepaskan tendangan yang masih digagalkan kiper Tatarusanu.

Di menit terakhir babak pertama pendukung Chelsea tersentak menyusul sukses Bucharest mencetak gol penyama. Dari skenario tenangan sudut, bola sempat memantul di antara pemain Chelsea dan Bucharest di dalam kotak penalti. Setelah memunculkan kemelut, si kulit bundar akhirnya masuk ke gawang setelah disambar oleh Vlad Chiriches. Gol tersebut membuat Chelsea secara agregat kalah 1-2 dan harus mencetak dua gol untik bisa lolos.

‘Si Biru’ tak harus menunggu lama untuk bisa kembali unggul karena 13 menit babak kedua berjalan John Terry sukses membawa timnya kembali berada di posisi di depan. Menyongsong tendangan bebas Mata, Terry yang dalam posisi tak terkawal dengan leluasa menanduk bola ke dalam gawang.

Torres! Di menit 71 Chelsea akhirnya mencetak gol yang bisa memastikan langkah mereka ke delapan besar Liga Europa. Dapat umpan tumit dari Hazard di dalam kotak penalti, tendangan terarah Torres merobek gawang Bucharest dan mengubah kedudukan menjadi 3-1, agregat 3-2.

Chelsea punya kesempatan untuk memperbesar keunggulannya setelah wasit menunjuk titik putih di menit 84 menyusul pelanggaran yang dilakukan terhadap Hazard. Namun peluang emas itu gagal dimanfaatkan oleh Torres, maju sebagai eksekutor sepakan El Nino membentur tiang gawang.

Susunan Pemain

CHELSEA: Petr Cech, Ashley Cole, David Luiz, John Terry, C�sar Azpilicueta, Ramires, Juan Mata, (’90 Victor Moses), Oscar, John Mikel Obi, Eden Hazard (’90 Yossi Benayoun), Fernando Torres

STEAUA BUCURESTI Ciprian Tatarusanu, Lukas Szukala, Mihai Pintilii, Iasmin Latovlevici, Cornel Rapa, (’83 Adi Rocha Filho), Vlad Chiriches, Adrian Poparadu, Alexsandru Chipciu, Cristian Tanase (’78 Pires Leandro), Alexandru Bourceanu, Raul Rusescu

sumber: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2013/03/15/050329/2194606/1033/kalahkan-steaua-3-1-chelsea-ke-perempatfinal?b99220270

Posted in Sepakbola | Tagged: , , , , | 1 Comment »

 
%d bloggers like this: